Traveling

Mengapa Harus Mendaki?

hs808j

Bagi saya. Dan mungkin bagi beberapa orang yang suka mendaki gunung, pertanyaan-pertanyaan dari segelintir orang menanyakan kenapa kami naik gunung dan buat apa kamu naik gunung selalu saja membuat rasa geli dalam hati. pertanyaan mereka itu, hanya kami jawab dengan sedikit lamunan betapa indah dan asyiknya mendaki gunung. Juga tak lupa sedikit jawaban nyeleneh. “coba dulu, baru berkomentar.” Jawaban itu saya rasa adalah kata yang pas untuk menjawabnya.

Mendaki gunung adalah seni, jawaban seorang teman saya pendaki gunung dari tanggerang. Seni yang memang tidak diapresiasikan dalam bentuk tarian maupun coretan pena di atas kanvas tentunya. Saya fikir seni yang kasat mata. Namun lebih dari itu, seni mendaki gunung adalah seni dimana kita bisa mendaki gunung dengan trik dan style berbeda dari kebanyakan orang.

Teman saya pernah mendaki hanya berbekal sebotol air saja tanpa sokongan perlengkapan apapun. Ya walaupun ini terbilang nekat dan beresiko, kalau si pendki memang berhasil sampai puncak tentunya kita hanya bisa berujar, mantap, sinting, dan lain-lain berupa cemoohan bahkan pujian. Inipun dapat kita katakan seni mendaki gunung. Ya walaupun seni yang nyeleneh tentunya.

Di luar seni, mendaki gunung bagi saya adalah proses pembentukan pribadi bagi seseorang. Keputusan-keputusan yang diambil dalam pendakian memerlukan pemikiran yang dewasa karena menyangkut kelangsungan alur pendakian tersebut. Bayangkan jika keputusan yang diambil salah ketika cuaca tidak memungkinkan? Hal yang terjadi bisa dua kemungkinan. Tetap survive dalam cuaca yang tak bersahabat tersebut. Atau mati konyol terjangkit hipotermia atau bahkan mountain sickness.

Pribadi yang matang dan bertanggung jawab mungkin hasil dari mendaki gunung. Selain itu ke-cintaan alam dan jiwa patriot lebih terasa ketika kita berada di pucuk-pucuk gunung. Melihat dan mencintai keindahan Indonesia dengan mendaki gunung, setidaknya sedikit melupakan kebobrokan petinggi-petinggi negeri ini.

Sebelum pendakian ada baiknya seorang pendaki mempersiapkan segala sesuatunya. Fisik yang telah dilatih. Manajemen perjalanan yang baik. Pemahaman medan yang akan ditempuh. Dan tentunya biaya. Serta alat-alat pendakian yang memadai dan standar.

Sama seperti cabang olahraga lainnya, mendaki gunung pun memerlukan latihan fisik sebelum terjun ke medan laga. Jogging minimal seminggu tiga kali disertai latihan beban. Latihan fisik berupa jogging dan latihan beban secara intensif dan berkala ini adalah modal penting untuk melatih fisik. Bayangkan , apakah bisa seorang cristiano Ronaldo menjadi pemain sepakbola professional tanpa latihan??

Perhitungan estimasi lama perjalanan sangat mempengaruhi suksesnya sebuah pendakian. Waktu yang terlalu mepet dengan cuaca yang tak bisa ditebak tentunya sangat mengganggu. Terlebih waktu yang kita sediakan untuk pendakian harus selesai hari anu karena hari anunya lagi kita kembali beraktivitas bekerja. Oleh sebab itu, setidaknya kita ambil pahitnya saja lamanya waktu pendakian kita lebihkan satu hari. Hal ini untuk menanggulani kalau-kalu ada suatu hal yang tanpa kita duga-duga menimpa kita.

Selain itu, informasi tentang letak tofografi, medan, dan kondisi cuaca medan yang akan kita tempuh harus kita ketahui seluk beluknya sebelum kita sampai di zona laga. Hal ini dimaksudkan agar kita sedia payung sebelum hujan. Jangan sampai kita membawa air hanya satu atau dua liter di gunung yang tak terdapat mata air karena minimnya pengetahuan kita tentang lokasi.

Biaya hal yang paling menentukan juga untuk kelangsungan pendakian. Tanpa biaya yang cukup perjalanan akan terhambat bahkan gagal. berbicara biaya masih sangat erat sekali hubungannya dengan manajemen perjalanan. Karena dalam manajemen perjalanan selalu diselipkan anggaran biaya. Pemilihan Jenis moda angkutan kembali kepada kocek kantong seorang pendaki. Biaya minim fasilitas seadanya, biaya berlebih fasilitas mewah. Kembali kepada uang bukan?

Ingin hati summit attack di kala matahari belum terbit agar melihat sunrise diatas pucuk gunung, tapi malang tak dapat lagi dielakkan karena senter atau headlamp tak dimiliki. Walhasil dalam pagi buta yang gelap jangan heran satu atau dua kali terjerembab ke dalam jurang. Tak masalah isi tas berat karena penuh dengan alat. Ini lebih safety daripada melangkah penuh dengan jumawa karena beban ringan tapi alat tidak standar.

Satu lagi sahabat sependakian gunung, saya banyak sekali melihat sampah-sampah di jalur pendakian yang berserakan, coretan vandalisme di batu-batu dan yang saya sedihkan lagi ini dilakukan oleh orang-orang yang tak sekali atau dua kali mendaki gunung, tapi puluhan kali. Sebisa saya, saya selalu membawa ceceran-ceceran sanpah itu menuju desa terdekat. Namun, bukankah lebih indah jika kita sama-sama membawanya turun kembali?

Tak usahlah kita bangga dengan predikat anak gunung yang dilontarkan teman-teman kita yang bukan pendaki. Yang seharusnya kita banggakan adalah turut sertanya kita menjaga dan melestarikan alam ini. Dengan tidak bertingkah vandalisme dan membawa kembali sampah yang kita bawa turun kebawah. Saya rasa tindakan ini lebih dari cukup. Walau hanya sedikit upaya untuk melestarikan alam ini, namun, jika kita bersama, semua pendaki gunung di seluruh Indonesia . mungkin alam ini akan tetap lestari sampai anak cucu kita pun bisa menikmatinya,

Iklan
Standar

Tinggalkan Jejak Dengan Menulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s