catatan, Traveling

Belajar Ilmu Traveling

traveller-girl-on-facebook-covers
Siapa yang tidak iri melihat para traveler mengunjungi tempat-tempat yang eksotis dan menjadi impian banyak orang. Tentu saja dalam hati kecil akan berkata “saya juga pengin”. Tidak ada yang tidak mungkin, sebab semua orang bisa mengunjungi tempat-tempat yang diidam-idamkan, sebab para traveler juga manusia seperti kebanyakan orang. Setiap traveler memiliki kisah dan cerita tersendiri dalam petualangan mereka. Ada banyak dan proses yang panjang bagi seorang traveler, namun aja juga yang dengan mudah untuk mengunjungi suatu tempat. Tentu saja kita belajar dari hal yang paling sulit, walaupun ada cara yang mudah untuk sampai di tempat impian kita. Setiap langkah kita akan menggoreskan tinta-tinta berisi cerita, berbeda dengan mereka yang dengan instant dan tanpa bersusah payah dalam menginjakkan kaki di tempat tujuan.
hitchhiker-706505_640
Traveler, tentu saja ada ilmunya dan bisa dipelajari bagaimana menjelajahi tempat-tempat istimewa. Sebuah perjalanan bukanlah kegiatan yang serta merta dan dalam sekejap bisa dilaksanakan, namun perlu direncanakan. Manajemen perjalanan, itu adalah kunci sukses tidaknya dalam mengarungi tantangan perjalanan. Dalam manajemen perjalanan, ibarat kita masuk dalam simulasi dan skenario petualangan walaupun hanya di atas kertas belaka. Sesuai dengan ilmu manajemen, tentu tidak bisa lepas dari 5W 1H (what, why, where, when, who dan how). What atau apa, sebuah pertanyaan mendasar sebelum memulai petualangan. Setidaknya mengerti apa itu traveler, petualangan, back packer, hingga seluk beluk aktivitas tersebut. Jika “apa” itu sudah terjawab setidaknya ada satu langkah untuk kaki ini berpijak. Why, sebuah pertanyaan klasik yang kadang menggerogoti ruang ketidak tahuan. Pertanyaan tentang alasan mengapa kita harus menjadi seorang traveler dan mengunjungi tempat-tempat tertentu. Alasan ini harus jelas, agar tujuan kita itu pasti mengapa kita ke sana. Tidak mungkin kita pergi tanpa alasan yang jelas, sebab alasan itu akan menjelaskan tujuan-tujuan kaki ini akan melangkah ke mana. Where, dimana kita akan pergi?. Apakah kita akan pergi ke gunung, pantai, kota, sungai, hutan, dasar laut hingga melanglang jauh ke negeri orang. Inilah tujuan dari perjalanan ini hendak ke mana kita akan melangkahkan kaki. Tentu saja tak semudah menjawab “saya mau kesana..?” sebab jalan terjal masih panjang untuk dilalui. When atau kapan kita akan bepergian. Berbicara kapan, tentu saja akan berhubungan dengan waktu, entah itu tahun, bulan, minggu, hari hingga detik demi detik. Waktu sangatlah vital, sebab kita tidak bisa mendahului atau mengulani, namun akan selalu teriring. Jangan bermain-main dengan waktu, bisa saja kita lalau dalam merencanakan kapan akan berkunjung harus batal dan menunggu 4 tahun  lagi sebab kita akan melihat pembukaan piala dunia. Who, siapa atau dengan siapa kita berpergian. Solo atau kita menjadi pengembara sendirian, duet bersama pasangan atau rombongan..? Teman seperjalanan tentu saja akan mempengaruhi aktivitas kita. Jangan sampai memilih orang yang salah dalam traveling. Mungkin kita akan traveling dengan jangka waktu yang lebih dari satu minggu, namun dengan teman yang punya penyakit “home sick” bisa batal di tengah jalan. Atau jika anda ingin bertualang di gunung, namun mengajak teman yang hoby jalan-jalan di mall dan wisata kuliner, maka akan sangat tersiksa perjalanan ini. Setidaknya belajar mencari orang yang tepat untuk menjadi patner, atau jika terpaksa maka berjalanlah sendiri karena akan lebih bercerita. How, bagaiama perjalanan ini adalah tahap akhir dalam membuat manajemen. Jika 5W tadi sudah terjawab, saatnya bermain-main dengan sumber daya kita sendiri. Paling mudah, lihat dari sisi anggaran alias keuangan kita. Jika berlimpah anggaran, maka angkatlah koper dan jika anggran menipis gendonglah ransel atau tunda dulu daripada merana di jalan. Usahana semua sudah terencana dengan baik sebelum keberangkatan (dok.pri) Perlengkapan tidak kalah pentingnya selama perjalanan, terlebih anda berjalan sendiri.
traveller1024x768
Susah senang anda yang tanggung termasuk segala macam kesulitan dan resikonya. Meningkatkan kemampuan diri sendiri sangatlah penting, baik dari segi penguasaan bahasa, budaya, kepekaan diri hingga hal-hal yang teknis sekalipun. Bawalah barang yang relevan dengan perjalanan anda, jangan sampai kita konyol dengan membawa barang yang berat, susah namun tetap utuh hingga kita pulang karena tidak terpakai. Membawa barang yang praktis, serba guna dan tahan lama menjadi pilihan selama perjalanan karena jauh lebih efektif. Tinggalkan barang-barang yang selama perjalanan tidak ada gunanya bahkan akan menyusahkan anda. Menguasai medan perang, adalah hal yang mutlak daripada jadi bulan-bulanan di tempat yang kita kunjungi. Tidak usah melakukan survei di lokasi, media informasi sudah sangat banyak untuk mencari informasi hingga mengatur strategi nantinya. Jangan sampai di sana menjadi tidak tahu sama sekali dan menjadi barang mainan oleh orang yang tak bertanggung jawab untuk menguras isi kantong, atau kita kebingungan sendiri sampai lupa tujuan awalnya. Persiapan yang matang, ibarat membuat skenario film adalah hal yang penting karena akan menjadi penuntun selama perjalanan. Tetapkan fokus pada tujuan awal sesuai dengan apa yang kita buat. Perubahan selama perjalanan adalah hal yang wajar, namun tetap disesuaikan agar perjalanan ini tidak sia-sia atau malah jadi malapetaka. Santun dalam perjalanan, dapatkan cerita yang menarik dalam setiap langkah kaki dan begikan itu semua pada sesama. Mari jelajahi keindahan alam bumi semesta ini,
Iklan
Standar

Tinggalkan Jejak Dengan Menulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s