catatan, Traveling

Cerita-cerita Traveling yang Penuh Kejutan

Cerita-cerita perjalanan para pelancong memang selalu menarik untuk disimak. Suka dan duka tak ayal mewarnai jejak-jejak perjalanan mereka yang hobi menjelajahi tiap sudut dunia yang eksotis. Bagi sebagian orang, melakukan traveling adalah hal paling mengasyikkan sekaligus menjadi sarana untuk lebih dekat dengan alam, mengagumi indahnya alam ciptaan Tuhan. Melalui traveling, seseorang juga bisa berbaur dan peka dengan masyarakat luas beragam jenis karakter di seluruh penjuru dunia.

Buku ‘The Destin ASEAN’ berisi kumpulan kisah perjalanan 11 penulis saat melancong ke 10 negara ASEAN. Dengan destinasi beragam, mereka mengisi perjalanan dengan cara beragam pula. Misalnya, mengamati perilaku masyarakat, menggali kembali jejak sejarah masa silam, mempelajari ragam budaya sekaligus menyapa indahnya alam.

Adis Takdos, mengurai kisahnya yang penuh hal-hal konyol dan penuh tantangan saat backpacking ke Medan. Berbekal uang dan pakaian seadanya, ia pun berangkat. Nyaris saja ia ketinggalan pesawat akibat bangun kesiangan. Saking terburunya, bahkan ia tak mengenakan celana dalam, sebab semua celana dalamnya masih menumpuk di keranjang cucian.

Saat tiba di Medan, ia pun memulai petualangannya. Ia memegang prinsip unik bin konyol, “saat lo backpacking, segala sesuatu bisa ditawar.” Nah, prinsip tersebut ia praktikkan ketika hendak membeli tiket memasuki tempat bersejarah “Rumah Tjong A Fie” (pengusaha bankir, dan kapitan dari Tiongkok yang sukses membangun bisnis perkebunan besar di Sumatra).

Ternyata, tiket masuknya sangat mahal, 35 ribu per orang. Karena duitnya pas-pasan, maka ia pun nekat menawar serendah-rendahnya; goceng alias 5 ribu. Tentu saja langsung ditolak mentah-mentah sama penjaga loketnya. Maka, ia pun tak jadi masuk, hanya mengambil foto Rumah Tjong A Fie saja dari luar, hehe.

Saat hendak menuju ke tempat penginapan yang konon murah di daerah Tuk-Tuk, Dengan raut tak berdosa, ia juga menawar tukang ojek yang mematok harga 35 ribu. Dasar konyol, ia (lagi-lagi) menawar serendah-rendahnya; goceng. Karena ditolak, maka ia pun memilih jalan kaki ke tempat penginapan, dengan jarak tempuh 5 km. Di tengah jalan, saat bertemu anak-anak SMP yang nebeng di atas atap mobil Elf, ia diketawain habis-habisan, “Woi, Bang, capek yah, Bang? Enakan kami naik mobil! Hahaha…”

Mamacation, begitulah Ariev Rahman menyebut travelingnya kali ini. Sebab, ia melakukan traveling ke Hat Yai dengan mengajak mama tercintanya. Hat Yai adalah kota yang terletak di Provinsi Songkhla, di Thailand bagian selatan, di mana mayoritas penduduknya adalah muslim.

Penduduk Malaysia mengenal Hat Yai sebagai kota transit untuk menuju berbagai destinasi di Thailand, juga sebagai spot belanja favorit karena harga barang-barangnya yang super murah.

Dengan menyewa motor, ia dan sang ibu mengelilingi kota Hat Yai. Songkhla menjadi tujuan pertamanya. Ada beberapa objek wisata yang menjadi alasannya mengunjungi Songkhla, seperti Samila Beach, Ancient Walls, Songkhla Museum, dan lain sebagainya. Samila Beach merupakan pantai paling terkenal di Songkhla dan kerap digunakan penduduk setempat untuk berlibur bersama keluarga.

Sayangnya, di tengah perjalanan menjelalahi keindahan kota Hat Yai, motor sewaan tersebut mogok. Ia pun dengan susah payah bermandikan keringat mendorongnya. Dan sialnya, saat hendak menghubungi nomor telepon pemilik motor, batre HP-nya ngedrop.

Kisah seru lainnya juga dialami oleh Oryza Irwanto bersama dua kawannya saat menjelajahi Brunei Darussalam. Mereka bertiga hanya berbekal uang sejuta untuk menjelajahi Kota Kinabalu dan Brunei Darussalam selama 5 hari. Itu artinya, mereka bertiga harus benar-benar ekstra irit dalam membelanjakan uangnya yang sangat pas-pasan itu.

Penghematan pertama mereka lakukan dengan berjalan kaki membelah Kota Kinabalu, dari KKIA ke Jesselton, tempat berlabuh kapal-kapal feri yang menjadi angkutan paling populer untuk menuju Brunei. Mereka bertiga start berjalan tepat pukul 24.00 menjauhi bandara hingga akhirnya tiba di Jesselton pukul 07.00

Oryza sempat mengalami kejadian menyedihkan saat tak sengaja terpisah dari kedua temannya. Ia terpaksa berjalan sendirian hampir 4 jam dengan kaki remuk redam dan lecet menuju tempat penginapan karena kemalaman di jalan dan sudah tak ada lagi angkutan umum. Cerita-cerita seru lainnya dapat dibaca langsung dalam buku traveling menarik ini.

***

BQF_eZnCcAAW1Rl.jpg large

Judul Buku : The Destin ASEAN

Penulis : Ariev Rahman, dkk.

Iklan
Standar

Tinggalkan Jejak Dengan Menulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s